Langsung ke konten utama

Cerpen Mappabajik by Ainun Jariah


Mappabajik
Harian Amanah, 29 Oktober 2016
WAKTU telah menunjukkan pukul sebelas malam. Setelah semua tugas kuliahku rampung aku mendekati ranjang dan merebahkan tubuhku. Hujan di luar belum juga reda. Sesekali terlihat kilatan petir disertai gemuruh guntur. Aku menggigil dingin. Meskipun jendela dan pintu kamar telah terkunci, Udara dingin masih berhasil menembus tembok kamar. Aku menarik selimut yang berada tidak jauh dari kepalaku lalu membungkus badanku. Tentu saja Berharap malam ini aku bisa tertidur lelap. Namun, belum lama mataku terpejam, sebuah suara tiba-tiba membangunkanku.


"Rahmat, Rahmat..." 

"Rahmat buka pintumu cepat, kalau tidak, saya akan mati." 

Aku tersentak kaget mendengar teriakan dan gedoran pintu yang sangat keras dari balik pintu. Dengan mata yang masih sedikit memicing aku bangkit membuka pintu kamar. Mataku membelalak heran melihat Rudi bersama Sari berdiri di depan pintu dengan pakaian basah kuyup. Tanpa meminta persetujuanku terlebih dahulu, Rudi menarik Sari dan aku masuk ke kamar lalu mengunci pintu rapat-rapat. Aku berdiri heran. Rudi dan Sari terlihat sangat tegang dan ketakutan. Belum sempat aku bertanya, Rudi sudah bicara memberi penjelasan.


"Maaf Rahmat, kami mengganggumu malam-malam begini. Tadi, saya dikejar oleh kakak Sari dengan membawa badik."

"Ha, kenapa?" 

"Sebenarnya beberapa hari yang lalu, saya ajak Sari untuk kawin lari. Karena keluarganya menolak lamaranku, alasannya karena ia menganggap saya tidak sepadan. Makanya saya nekat," jelas Rudi.

*** 

AKU menggelengkan Kepala dan tiba-tiba teringat kejadian delapan tahun yang lalu. Kejadian tragis yang menimpa pemuda asal Jeneponto. Syarif namanya. Syarif meninggal secara mengenaskan setelah ditikam dan dihajar oleh massa karena ketahuan membawa lari Rani, seorang gadis di sebuah Desa di Jeneponto.

Syarif dihajar massa karena tidak tahu cara main dari kawin lari. Dia tidak meminta perlindungan dari Imam kampung maupun melakukan mappabajik ke keluarga Rani. Alhasil keluarga Rani yang sangat marah karena merasa kehormatan keluarganya dijatuhkan mengumpulkan massa untuk mencari Rani dan Syarif. 

Syarif akhirnya ditemukan oleh salah satu keluarga Rani di sebuah jalan kecil dekat rumah kontrakannya. Kahar, kakak Rani yang melihat Syarif di jalan itu diam-diam membuntuti Syarif sampai ke kontrakannya. Kahar yang dikuasai oleh amarah lansung menghubungi massa yang sebelumnya telah berkumpul di rumahnya. Tidak cukup satu jam Kahar menunggu, rombongan massa akhirnya datang dengan menggunakan mobil truk. Beberapa menit kemudian mereka langsung menyerbu kontrakan Syarif. 

Syarif dan Rani yang ternyata sedang makan di ruang tengah kaget. Terlihat raut ketegangan di wajah mereka. Menyadari nyawa mereka terancam Syarif menarik tangan Rani. Berlari menuju pintu belakang rumah. Tapi sayang, jumlah massa tidak sebanding dengan dirinya. Di pintu belakang ternyata telah dijaga oleh beberapa orang. Syarif dan Rani ditarik ke arah yang berbeda. Rani ditarik keluar dari kontrakan. Sementara Syarif ditarik masuk ke dalam oleh massa. 

Kahar yang terlanjur emosi mengeluarkan badik miliknya. Tanpa pikir panjang ia membenamkan badik itu ke perut Syarif. Belum cukup dengan tikaman, Syarif juga mendapat amukan para massa.sampai akhirnya ia menghembuskan napas terakhirnya dan meninggal. Rani yang berada di depan pintu hanya bisa melihat kekasihnya dibunuh secara tragis di depan matanya. Dia tidak bisa melakukan apa-apa karena terhalau oleh beberapa massa. Teriakannya untuk meminta mereka agar tak membunuh Syarif sia-sia. Dia hanya bisa terkapar syok dan pingsan.

Aku merinding mengingat kejadian naas itu.

Tidak mau kejadian itu terulang pada Rudi dan Sari, aku segera menasihati mereka agar datang kerumah pak Imam dan menemui keluarga Sari untuk mappabajik. Begitulah cara main dari kawin lari jika ingin selamat. Karena menurut adat di Makassar jika seseorang datang kepada Imam desa maka dia akan terlindungi dari tikaman keluarga perempuan yang dibawa lari atau pun dari amukan massa. 

*** 

MENGINGAT perkataan Rudi tadi, merupakan hal yang wajar jika kakak dari Sari menghunuskan badik kepadanya. Karena itulah adat Makassar. Jika ada salah seorang dari keluarga bertemu dengan orang yang melakukan kawin lari, orang tersebut harus menikamnya dari depan. Hal ini dilakukan dengan tujuan menegakkan kembali kehormatan keluarga. Karena orang yang telah melakukan kawin lari sama halnya telah menjatuhkan kehormatan keluarga. Terkecuali jika pasangan yang melakukan kawin lari mendatangi imam dan meminta bantuan untuk melaksanakan acara mappabajik ke keluarga mereka, maka laki-laki yang melakukan silariang tidak harus takut lagi untuk dibunuh. 


***

KELUARGA Rudi dan Sari melakukan mappabajik dan membawa mas kawin serta denda yang telah disepakati. Akhirnya kedua orang yang melakukan silariang ini dapat kembali ke keluarga mereka. Dengan demikian harga diri keluarga besar juga dianggap telah ditegakkan.(*)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

PR Bagi Petugas Pelayanan Rumah Sakit Oleh: Ainun Jariah

ADA BANYAK pasien pengguna jasa Rumah Sakit (RS) sebelum datang ke RS tertentu akan mencari tahu bagaimana pelayanannya. Baik dari pihak yang memiliki pengalaman di RS maupun dari berita-berita yang beredar di sekitarnya.

Masyarakat enggan datang ke Rumah Sakit X jika tahu kondisi pelayanan dari RS tersebut kurang baik atau jika tahu fasilitasnya kurang memadai. Jika pasien yang memiliki tingkat ekonomi tinggi mungkin akan mencari RS swasta, dengan kata lain RS berkualitas meski harus mengeluarkan uang berlebih. Namun bagaimana dengan pasien tingkat ekonomi rendah?

Mungkin satu satunya yang pemerintah sarankan yaitu penggunaan Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang kini dikelola oleh BPJS Kesehatan. Akan tetapi, layanan BPJS Kesehatan dirasakan oleh beberapa pihak masih memiliki kekurangan.

Baca juga: Mendidik Anak Sejak dalam Rumah

Tindakan Petugas
Bukan rahasia lagi, terkadang di sebuah RS ada petugas pelayanan berbuat teledor saat melakukan tindakan. Keteledoran petugas ini bahkan tida…

Puisi-puisi bahasa Makassar dari kelas IV MI Anassappu Bontonompo

Momen yang sangat berharga untuk saya di tanggal 5 Mei 2018. Tulisan di atas mungkin bagi kita hanya tulisan biasa yang menyerupai cakar ayam. Namun, tahukah kalian jika tulisan-tulisan ini memiliki arti yang mendalam bagi yang dapat memahami bahasa Makassar.
.
Hari ini saya memberikan pelajaran Muatan Lokal kepada siswa-siswi saya di MI Anassappu Bontonompo. Pelajaran muatan lokalnya yaitu Bahasa Daerah. Demi mengembangkan imajinasi dan tetap mempertahankan budaya lokal, saya memberikan tugas membuat puisi kepada siswa saya menggunakan bahasa daerah Makassar.
Tidak saya sangka, beberapa puisi mereka membuat saya meleleh dan menitikkan air mata.
. -Fitriyana
Menuliskan tentang kesyukurannya terhadap uang jajan yang diberikan oleh ayahnya. Sedikit banyaknya tidak jadi masalah baginya. Asalkan dia dan adiknya punya uang jajan yang akan dia bawa ke sekolah. .
-Ahriani
Puisi I
Ia menceritakan kebiasaannya sebelum ke sekolah yang selalu membantu ayahnya mengurus sapi. Barulah pada jam 06.3…

Sebuah Perjalanan Mencintai Buku

17 Mei 2019

Jadi kemarin itu adalah hari buku yaaa? Di beranda media maya banyak yang berfoto dengan buku.
Tak mau ketinggalan, saya pun ingin menceritakan awal mula saya suka buku.

Saya kurang ingat kapan persisnya, tapi yang saya ingat baik. Sudah sejak SD kakek saya selalu menyuruh saya membacakan buku untuknya. Mulai dari kisah Bilal sahabat Nabi yang sangat teguh dalam mempertahankan aqidahnya. Bilal yang disiksa dengan sangat ganas oleh majikannya karena memilih untuk memeluk Islam.

Berat batu yang menindih tubuhnya tidak menggoyahkan sedikit pun lidahnya untuk tetap mengucapkan kata "ahad".  Buku yang berhasil membuat mataku basah waktu itu.

Selain buku tentang kisah Bilal, yang paling berkesan dan sangat suka saya baca adalah kisah 25 Nabi dan Rasul, kumpulan cerita Wali Songo, dan tidak lupa, dulu ada buku dongeng yang selalu saya tunggu-tunggu untuk dipinjamkan oleh teman adalah buku dongeng hadiah dari @dancow .

Maklum waktu itu saya belum minum susu Dancow dan pa…