Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2016

Cerpen Kisah Kita Terbatas by Ainun Jariah

Namaku Ainiy. Lengkapnya Zahratul Ainiy. Aku adalah mahasiswi baru di Universitas Islam Negeri Makassar. Aku lulus di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Jurusan Pendidikan Biologi. Aku sangat bersyukur saat dinyatakan lulus di jurusan ini. Jurusan yang aku impikan dari dulu.

"Alhamdulillah benar pesan ustadz Rasyid. Allah itu maha pemberi rezeki dan telah mengatur semua rezeki hambanya, selanjutnya tergantung kita mau menjemputnya atau tidak. Menjemputnya tentu saja dengan berusaha. Semut saja Allah perhatikan apalagi kita, lihat tuh semut di atas batu itu, dia mendapatkan rezeki karena dia berusaha mencari," Fahimah menunjuk semut-semut yang berjejer membawa makanan di atas sebuah batu besar di sampingku.

Aku bersyukur Allah mengirimkan sahabat sebaik Fahimah kepadaku. Gadis cantik dan soleha. Anak dari salah seorang petinggi di pesantren. Anak ustadz Rasyid. Meskipun begitu dia tidak pernah sombong. Bukan hanya Fahimah, Ummi Aisyah dan uztadz Rasyid, orangtua Fahimah juga ta…

Cerpen Kekuatan Jiwa by Ainun Jariah

Waktu telah menunjukkan jam enam lewat tiga puluh menit. Sepagi ini aku sudah berada di atas pete-pete kampus yang akan mengantarku ke kampus 1 UIN Alauddin. Ini adalah rutinitas baru di setiap pagiku. Setelah beberapa menit menunggu penumpang, mobil akhirnya bergerak keluar. Pandanganku ikut menyusuri jalan sekitar kampus. Mataku tertuju pada seorang nenek dipinggir jalan Samata. Dia berjalan dengan tongkat di tangan dan membopong sebuah karung. Tubuhnya telah membungkuk.

Entah apa yang membuatku terus memandanginya hingga penglihatanku tak dapat menjangkau bayangannya lagi karena mobil yang terus melaju. Aku akhirnya mengalihkan perhatianku pada buku yang kupegang. Sepanjang perjalanan aku menggunakan waktuku untuk membacanya. Meskipun hanya sekadar bacaan ringan, setidaknya dapat mengisi sedikit waktu kosongku dan tidak terlalu merasakan lamanya menunggu di pete-pete.

"Astaga dua jam maki di pete-pete, belum paki sampai. Tidak masuk ma lagi jam pertama." Keluh seorang ma…