Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2016

Kamu, yang katanya mencintaiku.

Wahai kamu yang katannya selalu mencintaiku. Masihkah kalimat itu akan terlontar jika sekiranya aku tak lagi bisa tersenyum untukmu?
Kakiku tak mampu lagi melangkah bersamamu?
Masihkah kalimat itu teguh di bibirmu? 
Bukan. 
Tapi, akankah kalimat itu tetap utuh di hatimu?
***
Berkali-kali kulemparkan pertanyaan itu pada embun  yang mampir di ujung mawar, berkali-kali pula aku di tertawakan.

28 okt. 16

Cerpen Mappabajik by Ainun Jariah

WAKTU telah menunjukkan pukul sebelas malam. Setelah semua tugas kuliahku rampung aku mendekati ranjang dan merebahkan tubuhku. Hujan di luar belum juga reda. Sesekali terlihat kilatan petir disertai gemuruh guntur. Aku menggigil dingin. Meskipun jendela dan pintu kamar telah terkunci, Udara dingin masih berhasil menembus tembok kamar. Aku menarik selimut yang berada tidak jauh dari kepalaku lalu membungkus badanku. Tentu saja Berharap malam ini aku bisa tertidur lelap. Namun, belum lama mataku terpejam, sebuah suara tiba-tiba membangunkanku.

"Rahmat, Rahmat..." 
"Rahmat buka pintumu cepat, kalau tidak, saya akan mati." 
Aku tersentak kaget mendengar teriakan dan gedoran pintu yang sangat keras dari balik pintu. Dengan mata yang masih sedikit memicing aku bangkit membuka pintu kamar. Mataku membelalak heran melihat Rudi bersama Sari berdiri di depan pintu dengan pakaian basah kuyup. Tanpa meminta persetujuanku terlebih dahulu, Rudi menarik Sari dan aku masuk ke kam…

Jangan Aku

Aku sudah terbiasa dengan hal seperti ini: Menunggumu.
aku bergelayut ditemani sepi. kadangkala, harus tertidur di kursi tamu
karena tak mampu menahan kantuk akibat semalam terlambat tidur.

Aku sudah terbiasa dengan kebiasaan seperti ini: Menantimu.
aku membaca buku pemberianmu tempo hari, di satu waktu
yang mana hanya kita berdualah yang tahu apa judul buku itu.
jangan bilang pada sesiapa tentang judul buku itu,
karena buku itu, sama halnya seperti aku:
hanya ingin menunggu dibaca, sedang malu jikalau banyak bicara.

Aku sudah terbiasa dengan perasaan seperti ini: Mengharapkanmu.
aku telah memohon pada Tuhan. begini kataku, 
"Tuhan, berikanlah aku kesabaran dalam menunggu,
dalam menanti, dalam mengharap sesuatu 
yang memang pantas untuk kutunggu. 
agar kelak aku tetap bisa bahagia, meski waktu untuk menunggu
telah habis dengan sendirinya dimakan waktu.
biarlah waktu yang lelah, Tuhan. Jangan aku!"

-
coretan dari hantu
    yang malu malu
   di balik namamu

Konsistensi PT Semen Tonasa dalam Menyandang U4 di Kawasan Timur Indonesia

AINUN JARIAH
(Mahasiswa Pendidikan Biologi, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar) ainunjariiah12@gmail.com
KONSISTENSI dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti tetap; tidak berubah-ubah; taat asas; kesesuaian; sejalan. Konsistensi adalah hal yang sangat sulit untuk dijaga. Sebab, ada banyak pengaruh-pengaruh dari lingkungan yang mampu menggoyahkan konsistensi itu sendiri. Namun, dalam hal ini PT. Semen Tonasa berhasil menjaga konsistensinya dalam menghasilkan produk yang unggul dan bermutu. Ini dapat dilihat dari kegiatan-kegiatan serta penghargaan yang telah didapatkannya sejak tahun 1968.
     PT Semen Tonasa (Persero) adalah penghasil semen terbesar di Kawasan Timur Indonesia. Perusahaan yang berdiri sejak 1968 ini terletak di Desa Biringere, Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Jaraknya sekitar 68 kilometer dari kota Makassar. PT Semen Tonasa mempunyai lahan seluas 715 hektare dan empat unit pabrik siap beroperasi kapan saja. Sejak 48 tahun …