Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2016

Memeluk Hujan

aku hanya bisa memeluk hujan Sore ini sebab, memelukmu adalah sebuah kemustahilan yang telah pasti

Batangkaluku 17.35 15 Nov. 16

Surat Untuk Tuhanku

Pada Tuhan tempatku berserah
kutitipkan hatiku hanya untukmu
kuikhlaskan takdirku selepas usahaku
aku ingin berjalan diirangi rahmatmu

tidak menjadi manusia yang lupa tuannya
aku ingin kecil dan besar dengan naungan kasihmu
maka izinkan aku terus dijalanmu
sentuh imanku saat ia mulai khilaf

sebab, tujuanku hanya satu
terus berada dalam naungan Ridhohmu.

20:50
Dormitory
14 Nov. 16

Sekat yang Menyesakkan

katamu, cinta tidaklah cukup.  maka bersabarlah sebentar lagi. jangan terlalu memikirannya. perbanyaklah menulis agar tak kau rasakan kejenuhan menunggu.  ***  sore itu, selepas mengantarku pulang dari mengajar. kau terus melajukan motor tanpa mendengar ocehan kesalku.  mungkin ini adalah kali kesekiannya kau mendengar bibirku  melepaskan permintaan yang sama 
dengan alasan yang sama pula. tapi, tahukah kau jika alasan yang kau dengar itu hanya secuil alasan yang memaksaku untuk terus mendesakmu?
kau kenal sesak kan?  Aku selalu merasa sesak saat menemukan diriku dan dirimu  masih memiliki sekat yang harus kujaga dengan baik agar kelak kita juga akan baik-baik saja.  bukankah selama ini kita memiliki kekhawatiran yang sama?
kau hanya terdiam tiap kali kalimat itu terlontar kembali.
aku tahu baik, jika semua tidaklah mudah terutama untukmu doaku hanya satu, semoga kita akan baik-baik saja  sampai waktu yang telah ditentukan itu tiba. 
14.09 12 November 2016

Kepastian Akhir

Seperti malam-malam lalu
Aku kembali memeluk malam dengan bibir basah
Bercumbu di atas sajadah dengan setumpuk resah
Tak henti merapal doa pamungkas pemberian ayah
Aku tak tahu kemana akhir akan membawa
Ke Surga atau malah ke Neraka?

Yang pasti,
Waktu akan selalu setia menjemput hari
Tanpa undangan, tanpa rayuan

Kepada hati yang masih tertidur di atas permadani nafsu
Adakah bekalmu telah penuh?
Jika tidak
Lalu, mengapa kau masih tak acuh?

04:10
Sabtu 12 Nov. 2016
Dormitory

Aku Ingin mengembalikan Mawarmu

katamu,
hadirku adalah penghalang.
lalu,
mengapa kau tak melepaskan genggamanmu?


aku telah melepaskan mawar yang lain dulu
mengabaikan luka-luka lain dan memilih berjalan bersamamu
aku telah membuka pintu untukmu
menerima masalalumu tanpa banyak bercerita
aku diam-diam telah mengetahui banyak tentangmu waktu itu
sebab, kupikir semua orang pernah berbuat salah
selama ini aku berpura-pura menjadi bodoh
aku berpura-pura tak tahu semuannya
demi membuatmu tetap nyaman di sampingku
tanpa dihantui rasa khawatir yang bisa saja menjelma menjadi luka

aku ingin mengambil sepotong hati yang pernah kuberikan
dan mengembalikan mawar yang dulu pernah membuatku begitu bahagia.

08.00 10 Nov. 16
Fakultas Tarbiah dan Keguruan
(Dalam Riuh suara-suara bising Manusia)



Bahagia itu sederahana

Embun menemaniku pagi ini,
bersama menyusuri sejuknya pagi dan tenangnya alam
bukankah bahagia adalah milik semua orang?
dan setiap orang memiliki cara bahagianya masing-masing?

aku bahagia saat ini
menyusuri setiap sudut kampus tanpa malu-malu
menikmati simponi alam pagi tanpa beban
ternyata bahagia itu sederhana
cukup melakukan hal-hal yang kau sukai tanpa memperdulikan apa kata orang
toh, kebanyakan dari mereka hanya akan sibuk dengan urusan mereka sendiri
jadi,
mengapa harus malu?
bahagia itu sederhana,
Yah,
sesederhana ini.


10 Nov. 16
Fakultas Tarbiah dana keguruan
(Dalam penghujung subuh)



Aku baik-baik saja

Matahari telah menghilang.
Tapi, aku masih bertahan di tempat duduk ini.
 Hari ini tiba2 saja semua orang menjadi asing di mataku.
Aku ingin sendiri.
Sendiri menikmati sepi.
Aku ingin tenang saat ini.
Tanpa bising suara pikiranku yang telah kusut beberapa bulan ini.
Sudah lama aku tak menikmati kesendirian ini.
Ternyata aku baik-baik saja begini.
Tanpa, orang yang telah mulai belajar mematahkan bahagiaku.
Tanpa orang yang telah belajar melemparkan duri dari lidahnya.
Tanpa orang yang mulai menampakkan kejenuhannya.

Aku baik-baik saja begini.
Aku telah belajar dari masalalunnya.
Aku takut, sifatnya yang dulu terulang lagi.
Mencintai orang lain di saat hati yang lain sedang bertumpu pada hatinya.

Aku sebaiknya menghindar.
Aku tidak ingin sakit hati lagi
Sebab, gejala masalalunya telah mulai menampakkan rohnya.

Sebenarnya aku telah melupakan semuanya.
Masalalunya.
Masalaluku.
Aku telah menguburnya.
Hanya saja dia yang memaksaku merenung dan kembali menggali keping-keping lama yang telah…

Aku menunggumu dalam Hujan

Kau tahu?
Aku baru saja menemukan diriku di bawah hujan. Sendiri dalam hujan, membiarkan gigil memeluk tubuhku karena hujan,  Aku suka hujan.  Dan aku tidak pernah lari darinnya. Saat ini, aku menunggumu di dalam hujan Sebab, aku tidak mau kau melihat airmataku. 
Aku menunggumu dalam hujan. Aku menunggumu dalam hujan. Aku menunggumu dalam hujan. Hingga airmataku sendirilah yang menjadi hujan. Aku menunggumu dalam hujan Tapi, kau ternyata tak suka hujan. Aku tetap menunggumu dalam hujan. Sebab, aku telah menjadikan diriku sebagai hujan.
17:07 Pelataran Fakultas Tarbiah dan Keguruan (Dalam Hujan)
09 Nov. 16

eR

eR, aku ingin bercerita hari ini.
Aku sedang tidak baik-baik saja.
Nelangsa telah merayapi senyumku.
 Aku telah menemukan kejenuhan dalam matannya.

eR, masihkah kau mendengarku?
Senja telah tenggelam dalam wajahnya.
eR, adakah kau menyiapkan ayunan untukku?
Aku sedang bersedih, kau tahu senyumku kan?
eR, dia akhirnya menuntaskan kisah.

15:40
09 Nov.16
Laboratorium Biologi
Menanti tentu bukanlah perkara muda. Bersabar dan setia menjaga komitment adalah jalan untuk tetap bertahan. aku tidak tahu kapan Allah akan membelokkan hatiku. Begitupun dengan hatinnya. Hanya saja jika kita tetap konsisten merayu dan menyelipkan nama dalam doa-doa hening. Adakah yang musthil untuknya?

Maka bersbarlah dan bertahan sebentar lagi.

09 Nov. 16

Sayang yang Tertunda

Sayang.
Sebuah kata yang tak pernah berhasil lepas dari tenggorokanku
untuk dia orang yang selalu memperjuangkan dan menjaga janjinya.
Kubiarkan Tuhan yang mendengar semua rindu-rindu yang kian menjadi akut
Dalam doa-doa malam berisikan namamu bersandingkan harapku.

Aku tahu,
Dibutuhkan dua hati yang kuat untuk bertahan
Aku tahu baik,
Kita harus lebih lapang untuk bersama
Sebab, kita bertemu bukan untuk berpisah
Bukan pula untuk saling melupakan
Kita bersama untuk saling menguatkan
Sampai Tuhan berkata sudah waktunya
Diriku memanggilmu Sayang.

07 Nov. 16